Ibrah

Tentang Tiga Fase Kehidupan Manusia

Foto: Unsplash
50views

Dalam Surah Maryam ayat 15, Allah berfirman:

وَسَلٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوْتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا ࣖ

Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali

Ada tiga fase kehidupan yang seharusnya sangat dikhawatirkan oleh seseorang, dan keselamatan pada ketiganya seharusnya selalu menjadi prioritas setiap orang. Dalam ayat di atas, Allah telah menjamin keselamatan bagi Nabi Yahya dalam tiga fase ini. Ketiga fase tersebut adalah:

  1. Ketika berpindah dari alam janin menuju alam kehidupan dunia;
  2. Ketika berpindah dari alam kehidupan di dunia menuju kehidupan di alam barzakh;
  3. Ketika berpindah dari alam barzakh menuju alam akhirat atau Padang Mahsyar.

BACA JUGA:Nabi Yahya Diangkat Nabi Sejak Masih Kecil 

Pertama, ketika baru lahir, setan sudah semangat dalam mengganggu manusia sehingga banyak bayi yang menangis karena gangguan setan.

Kedua, ketika akan meninggal dunia, setan mengerahkan seluruh kekuatannya demi menjadikan manusia meninggal dalam keadaan su’ul khatimah karena ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menjerumuskan manusia ke neraka Jahanam. Jika seseorang tidak ditolong oleh Allah dalam keadaan ini, maka dia bisa binasa menjelang kematiannya; entah meninggal dalam keadaan bermaksiat, sulit mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah, atau meninggal dalam keadaan ber-suudzan (buruk sangka) kepada Allah.

Diriwayatkan bahwa ketika Imam Ahmad akan wafat, beliau mengatakan, “Belum… Belum!” ketika ditanyakan itu, beliau menjelaskan bahwasanya baru saja Iblis datang kepadanya berkata, “Kau telah selamat dariku, wahai Ahmad?” Imam Ahmad pun menegaskan bahwa selama manusia belum meninggal dunia, maka ia belumlah lolos dari Iblis dan bala tentaranya. Iblis ingin memasukkan rasa ujub pada diri Imam Ahmad di saat-saat terakhir kehidupannya untuk mencelakakannya.

Sakratul maut adalah kondisi yang sangat genting karena tidak ada yang bisa menjamin keadaan seseorang saat meninggal, apakah akan husnul khatimah ataukah su’ul khatimah. Oleh karenanya, seseorang hendaknya selalu waspada dan meminta pertolongan kepada Allah agar diselamatkan ketika sakaratul maut.

Ketiga, ketika dibangkitkan di Hari Kiamat. Hari Kiamat adalah hari yang sangat dahsyat sehingga pada hari tersebut seseorang sudah pasti sangat butuh penyelamatan dari Allah.

BACA JUGA: Lima Wasiat Nabi Yahya a.s.

Ada sebuah kisah populer di kalangan ahli tafsir tentang kematian Nabi Yahya. Ada beberapa riwayat tentang detail kisah itu, di antaranya adalah bahwa ketika itu ada seorang wanita pezina yang menyukai Nabi Yahya, tetapi Nabi Yahya tidak menyukainya. Ada seorang raja yang menyukai wanita tersebut dan hendak menikahinya. Lantaran dendamnya terhadap penolakan Nabi Yahya, wanita tersebut pun meminta mahar kepada sang raja berupa kepala Nabi Yahya. Akhirnya, Nabi Yahya dibunuh oleh penguasa tersebut sebagai mahar bagi wanita tersebut. Perlu digarisbawahi bahwa walaupun kisah ini sangat masyhur, riwayat-riwayatnya tidaklah valid. Terlebih lagi ia bertentangan dengan jaminan keselamatan yang telah Allah firmankan di dalam ayat di atas.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response