Ibrah

Adab Berdoa Para Nabi

Foto: Pixabay
50views

Berdoa dengan suara lirih adalah sikap yang disunahkan ketika berdoa, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Zakaria. Para ulama menyebutkan beberapa faedah dari sunah ini, di antaranya:

  1. Berdoa dengan suara yang lembut dan lirih menunjukkan keimanan bahwasanya Allah Maha Mendengar segala suara. Allah berfirman dalam Quran Surah Al-Mulk (67) ayat 13:

وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

Seseorang ketika berdoa hendaknya mengucapkan dan mengungkapkan permintaannya di hadapan Allah, untuk menunjukkan rasa butuh dan kehinaannya di hadapan Allah, namun tetap dengan suara yang Lirih.

  1. Khusyuk tidak mungkin didapatkan dengan cara berteriak-teriak. Ia hanya dapat diperoleh dengan suara yang lirih, terlebih apabila disertai dengan gemuruh hati dan isakan tangis.
  2. Berdoa dengan suara yang lirih lebih menjaga keikhlasan seseorang karena dengan itu tidak ada yang mendengar ucapan dan seruannya kecuali Allah.

Firman Allah, yaitu dalam Quran Surah Maryam, ayat 4:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا

Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.”

BACA JUGA: Kisah Doa Nabi Zakaria yang Dikabulkan Ketika Shalat

Sering kita jumpai doa-doa para nabi yang disebutkan dalam Al-Quran yang diawali dengan “Rabbi….” atau “Rabbana…”. Salah satu hikmah terkait hal ini, yang disebutkan oleh para ulama, adalah karena pengabulan doa berkaitan dengan rububiyyah Allah; seperti pemberi rezeki, mengabulkan doa, menghidupkan dan mematikan, dan seterusnya. Sehingga cocok jika seseorang yang berdoa ber-tawasul dengan rububiyyah Allah karena yang mengatur alam semesta hanya Allah dan yang memungkinkan terjadinya sesuatu yang mustahil hanya Allah.

Karena pengabulan doa terkait dengan rububiyyah Allah, kita jumpai doa orang kafir pun dapat dikabulkan, seperti banyak yang disebutkan dalam banyak ayat, bahkan doa iblis pun dikabulkan. Sebagaimana Allah memberi hal-hal terkait rububiyyah-nya, seperti rezeki, kehidupan, kematian, kepada seluruh hamba-Nya sesuai kehendak-Nya dan hikmah-Nya, baik yang Mukmin maupun kafir, maka demikian halnya pengabulan doa. Allah berfirman tentang doa iblis, yaitu dalam Quran Surah Al-Hijr (15) ayat 36:

قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

Berkata iblis: “Ya, Tuhanku, (kalau begitu) beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.”

Maka, Allah mengabulkan doanya dalam Quran Surah Al-Hijr ayat 37:

قَالَ فَاِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَۙ

Allah berfirman: “(kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.”

Allah berfirman tentang doa-doa orang-orang kafir kepada-Nya, yaitu dalam Quran Surah Al-Ankabut (29) ayat 65:

فَاِذَا رَكِبُوْا فِى الْفُلْكِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۚ فَلَمَّا نَجّٰىهُمْ اِلَى الْبَرِّ اِذَا هُمْ يُشْرِكُوْنَۙ

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).

BACA JUGA: Yang Dilakukan Nabi Zakaria Ketika Berdoa

Begitu juga dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ menyebutkan: “Hati-hatilah dari doa yang terzalimi, meskipun dia kafir, karena tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah.”

Begitu juga dalam hadis yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda, ” Doa orang-orang yang terzalimi adalah doa yang diijabah/dikabulkan. Walaupun orang yang berdoa tersebut adalah orang yang fakir. Karena kefakirannya itu berkaitan dengan dirinya sendiri.”

Firman-Nya dalam Surah Maryam (19) ayat 4:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا

Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

Perhatikanlah bahwa Nabi Zakaria mengungkapkan dengan kata (Wahana Adzmu) bukan dengan  (wahana Adzmi}, untuk menunjukkan bahwa seluruh tulangnya, tanpa terkecuali, telah melemah. Beliau tahu bahwasanya tulang adalah penegak tubuh, sehingga jika penegak tubuh tersebut telah lama maka tubuh secara umum juga pasti melemah.

Ini juga mengajarkan kepada kita sikap yang seharusnya ketika berdoa, yaitu dengan cara menampakkan kekurangan, kebutuhan, kefakiran, dan kelemahan kita di hadapan Allah. Selain merupakan adab dalam berdoa, sikap tersebut juga semakin memperbesar peluang terkabulnya doa seseorang. Jangan pernah ragu untuk menyampaikan semua hajat kita kepada Allah. Jangan sampai kita berdoa dengan sikap yang seolah mengesankan ketidakbutuhan terhadap apa yang kita pinta.

BACA JUGA: Tentang Bertawasul dengan Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian berdoa dengan mengatakan: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki’, atau ‘ Ya Allah limpahkanlah rahmat-Mu jika Engkau menghendaki’! Hendaklah kalian kuatkan tekad ketika memohon karena sesungguhnya tidak suatu pun yang dapat memaksa Allah untuk berbuat sesuatu.”

Ucapan semacam itu terlarang karena ia mengesankan ketidakbutuhan seseorang pada Allah.

Demikianlah adab para nabi ketika berdoa, mereka benar-benar merengek kepada Allah.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response