Tafsir

Penjelasan Tentang Kesalahan dan Dosa Para Nabi: Tafsir Surah Asy-Syarh (94) Ayat 2

54views

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Asy-Syarh (94) ayat 2:

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ

Dan kami pun telah menurunkan bebanmu darimu

 

Penjelasan Ayat

Secara bahasa, wizrun maknanya dosa. Ada beberapa pendapat ahli tafsir tentang makna wizroka pada ayat ini seperti yang disebutkan Imam Al-Qurthubi (20/105-106) dan Al-Baghawi (8/463). Pertama, sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan “dosamu wahai Muhammad”. Artinya, dosa-dosa nabi pada zaman Jahiliyah karena beliau pernah terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan– sebelum diutus menjadi seorang nabi– seperti mengikuti sebagian adat kebiasaan kaumnya. Meskipun demikian, Nabi tidak pernah menyembah berhala.

Pendapat kedua adalah sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan “dosa umatmu yang membebanimu” karena Nabi sangat perhatian kepada umatnya sehingga beliau seolah-olah ikut memikul beban berat. Salah satu sifat Nabi adalah ikut merasa berat terhadap apa yang memberatkan umatnya seperti dosa-dosa mereka.

Allah berfirman dalam Surah At-Taubah (9) ayat 128:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Pendapat ketiga, ada pula yang menafsirkan dengan “kesulitan yang engkau hadapi dalam berdakwah”. Dengan demikian, semua itu diangkat Allah agar tidak membebani beliau.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama—sesuai dengan zahir ayat—yaitu “dosamu wahai Muhammad, baik dosa yang telah lalu maupun yang akan datang“. Inilah pendapat yang dipilih Al Hafidz Ibnu Katsir, seperti firman Allah dalam Surah Al-Fath (48) ayat 2:

لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ

Agar Allah mengampunimu dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang….

Mayoritas ulama berpendapat para nabi mungkin saja untuk berdosa, dengan catatan:

  1. Dosa mereka tidak berkaitan dengan masalah (wahyu) karena mereka ma’sum dari kesalahan dalam menyampaikan risalah Allah. Tidak ada yang disembunyikan, dikurangi, atau ditambah oleh mereka.
  2. Dosa yang mereka lakukan sangatlah sedikit dan bukan dosa besar. Hal ini menguatkan bahwa para nabi benar-benar seorang manusia. Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (8) ayat 110:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhan Kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa… “

Nabi ﷺ bersabda, “Seluruh anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertobat.”

BACA JUGA: Mengenal Kelapangan Dada Seorang Nabi

Seluruh Nabi merupakan keturunan Nabi Adam a.s. sehingga mereka—sebelum Nabi Muhammad—pun pernah melakukan kesalahan. Bahkan, Nabi Adam pernah berdosa akibat memakan buah yang dilarang Allah. Kemudian, Allah memberikannya taufik untuk segera bertobat dan akhirnya tobatnya diterima. Allah berfirman dalam Surah Tha Ha (20) ayat 121-122:

وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى ۖ…

… Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian, Tuhannya memilihnya. Maka, dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.

Nabi Nuh a.s. juga pernah bersalah dan memohon ampun ketika meminta keselamatan untuk anaknya yang kafir. Allah pun menegur beliau dengan berfirman dalam Surah Hud (11) ayat 46-47:

قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ ۗوَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

Hai, Nuh, sesungguhnya ia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan. (46) Nuh berkata: Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi. (47)

Nabi Musa a.s. juga pernah berdosa. Beliau pernah memukul pengikut Fir’aun hingga meninggal dunia meskipun tanpa bermaksud membunuh. Kemudian, Nabi Musa bertobat kepada Allah dan Dia pun mengampuninya. Allah berfirman dalam Surah Al-Qasas (28) ayat 15-16:

فَوَكَزَهٗ مُوْسٰى فَقَضٰى عَلَيْهِۖ قَالَ هٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِيْنٌ قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

… Lalu, Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu. Musa berkata, “Inilah perbuatan setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhan)nya.” Musa berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka, Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

BACA JUGA: Ciri-Ciri Orang Beriman: Penjelasan Surah Al-Balad (90) ayat 17

Nabi Daud pun pernah bersalah. Sebagaimana dalam Surah Shad (38) ayat 24-25:

وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَاكِعًا وَّاَنَابَ فَغَفَرْنَا لَهٗ ذٰلِكَۗ وَاِنَّ لَهٗ عِنْدَنَا لَزُلْفٰى وَحُسْنَ مَاٰبٍ

Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya, lalu bersujud dan bertobat. Maka, Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi kami dan tempat kembali yang baik.

Kesalahan Nabi Daud adalah terlalu cepat memutuskan hukum tanpa mendengar pihak kedua.

Demikian juga Nabi Muhammad ﷺ yang pernah bersalah dan ditegur Allah beberapa kali. Allah berfirman dalam SuraH At-Tahrim (66) ayat 1:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Nabi kadang-kadang melakukan kesalahan setelah berijtihad. Allah pun menegurnya sehingga syariat tidak mungkin keliru.

Kesalahan-kesalahan para nabi juga tidak mungkin menunjukkan keburukan akhlak mereka. Contohnya, para nabi tidak mungkin berdusta, mencuri, atau berkhianat. Intinya, semua dosa yang menunjukkan rendahnya kedudukan dan kewibawaan seseorang tidak mungkin dilakukan para nabi. Namun, para nabi mungkin saja melakukan kesalahan dalam berijtihad, lalu ditegur oleh Allah. Dosa-dosa seperti ini tidak menggugurkan kedudukan Nabi Meskipun mereka akan merasa sangat berat.

BACA JUGA: Cobaan-Cobaan bagi Orang Beriman: Penjelasan Surah Al-Buruuj (85) Ayat 4

Salah satu hikmah Allah menjadikan Nabi Muhammad ﷺ berdosa adalah agar kita dapat meneladani beliau dalam bermunajat dan meminta ampun kepada Allah, misalnya dalam doa berikut:

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, dan sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda, dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupun sengaja. Ampunilah segala kesalahan yang kulakukan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, (dosa) yang aku sembunyikan dan (dosa) yang aku lakukan terang-terangan. Engkaulah yang terdahulu dan yang terakhir dan Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi benar-benar meminta ampun kepada Allah atas kesalahan yang mungkin saja dilakukannya. Demikianlah kenyataannya: beliau pernah terjatuh di dalam dosa tetapi Allah mengampuninya.[]

 

Sumber: Tafsir Juz Amma, karya Ust. Firanda Andirja

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response